Tari Saman berasal dari dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh. Daerah asalnya meliputi wilayah yang kini menjadi Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tamiang.
Lebih dari sekadar tarian dengan gerakan tepuk tangan yang kompak, Tari Saman sudah lama menjadi media dakwah sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Gayo.
Sampai sekarang, tarian ini masih sering ditampilkan dalam acara adat, keagamaan, hingga festival budaya di berbagai negara.
Kalau kamu penasaran bagaimana sejarah Tari Saman bermula dan apa makna di balik setiap gerakannya, simak penjelasannya berikut ini.
Tari Saman Berasal dari Daerah Gayo, Aceh
Secara geografis, Tari Saman berasal dari dataran tinggi Gayo yang menjadi tempat tinggal suku Gayo, salah satu suku asli Aceh.
Kawasan ini berada di sekitar Danau Laut Tawar dan kini masuk ke wilayah Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, serta Aceh Tamiang.
Nama Saman diambil dari Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Gayo sekitar abad ke-13 hingga ke-14.
Karena itu, Tari Saman sering dianggap sebagai perpaduan antara budaya lokal dan syiar Islam.
Sebelum menjadi tarian seperti sekarang, Tari Saman dipercaya berkembang dari permainan rakyat bernama Pok Ane atau Tepuk Abe.
Permainan ini berupa tepuk tangan sambil bernyanyi yang biasa dimainkan anak-anak dan pemuda Gayo.
Syekh Saman kemudian mengembangkannya menjadi media dakwah dengan menambahkan syair-syair bernuansa keislaman.
Dari sinilah Tari Saman mulai dikenal sebagai kesenian yang sarat pesan moral.
Sejarah dan Fungsi Tari Saman di Masyarakat Gayo

Pada awalnya, Tari Saman digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat pedalaman.
Gerakan tepuk tangan, tepuk dada, dan lantunan syair membuat pesan agama lebih mudah dipahami sekaligus menarik untuk diikuti.
Seiring waktu, fungsi Tari Saman semakin luas. Kini tarian ini sering ditampilkan untuk:
- Merayakan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW.
- Mengiringi acara adat, termasuk pernikahan dan penyambutan tamu penting.
- Mempererat silaturahmi serta kekompakan masyarakat.
- Menyampaikan pesan moral dan nasihat melalui syair.
Hal lain yang membuat Tari Saman begitu unik adalah tidak menggunakan alat musik. Seluruh irama berasal dari tepukan tangan, tepukan dada, tepukan paha, gerakan kepala, dan suara para penari.
Karena itu, setiap penari harus bergerak dan bernyanyi dengan sangat kompak. Sedikit saja terlambat, irama pertunjukan bisa langsung berubah.
Pada masa penjajahan Belanda, Tari Saman sempat dianggap mencurigakan karena dinilai memiliki unsur mistis.
Meski begitu, masyarakat Gayo tetap menjaga tradisi ini hingga akhirnya terus bertahan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Makna Gerakan dan Ciri Khas Tari Saman
Setiap gerakan dalam Tari Saman memiliki makna tersendiri. Bukan hanya soal keindahan, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, disiplin, dan kerja sama.
Beberapa ciri khas Tari Saman antara lain:
- Dilakukan sambil duduk berbaris, biasanya di atas bale saman atau lapangan terbuka.
- Gerakannya cepat dan serempak, memadukan tepuk tangan, tepuk dada, tepuk paha, serta gelengan kepala.
- Menggunakan syair berbahasa Gayo, yang berisi pujian kepada Allah, salam, pantun, atau nasihat.
- Tanpa iringan alat musik, sehingga seluruh ritme bergantung pada kekompakan para penari.
Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya ada prosesi pembuka yang disebut keketar. Pada tahap ini, tokoh adat atau pemuka masyarakat menyampaikan nasihat kepada para penari dan penonton.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Tari Saman bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan dan pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat Gayo.
Pengakuan UNESCO untuk Tari Saman
Pada 24 November 2011, Tari Saman resmi ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.
Penetapan ini dilakukan pada Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang digelar di Bali.
Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa Tari Saman bukan hanya kebanggaan masyarakat Gayo atau Aceh, tetapi juga bagian dari warisan budaya dunia yang harus dijaga.
Sejak saat itu, Tari Saman semakin sering tampil dalam berbagai festival budaya internasional dan menjadi salah satu ikon yang memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia.
Temukan di TipTip
Kalau kamu suka menikmati pertunjukan yang penuh nilai budaya dan seni, jangan lewatkan juga berbagai konser musik di TipTip. Kamu bisa langsung cek tiptip.id untuk melihat jadwal dan membeli tiketnya.
Salah satu yang menarik adalah UNGU – Waktu Yang Dinanti: Final Chapter (30 Tahun Berkarya) yang akan digelar pada 30 Oktober 2026 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.
Konser ini menjadi perayaan perjalanan 30 tahun UNGU di industri musik Indonesia.
Sama seperti Tari Saman yang terus dilestarikan lintas generasi, konser ini juga menjadi bukti bahwa karya anak bangsa tetap bisa hidup, berkembang, dan terus dirayakan.
FAQ Seputar Tari Saman
Tari Saman berasal dari daerah mana?
Tari Saman berasal dari dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh, meliputi Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tamiang.
Siapa pencipta Tari Saman?
Tari Saman dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Gayo pada abad ke-13 hingga ke-14.
Kapan Tari Saman diakui UNESCO?
Tari Saman diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 24 November 2011.


