Alat musik tradisional Papua punya bunyi dan cara main yang jauh dari kata biasa. Ada yang ditiup dari cangkang kerang, ada juga yang dijepit di bibir lalu dipetik.
Sebagian besar alat musik ini dibuat dari bahan alam di sekitar pemainnya. Jadi, setiap alat membawa cerita tentang hutan, pantai, dan adat tiap suku. Berikut delapan di antaranya yang layak kamu kenal.
Baca Juga: Lirik All I Want for Christmas Is You dan Terjemahannya
Tifa
📍 Asal: Papua dan Maluku, populer di Sentani dan suku Asmat
🎼 Jenis: Pukul (mirip gendang)
🪵 Bahan: Batang kayu berongga dan kulit hewan
🎭 Fungsi: Upacara adat, penyambutan tamu, pengiring tari
Tifa adalah alat musik pukul berbentuk tabung memanjang. Salah satu ujungnya ditutup kulit hewan, misalnya kulit rusa yang sudah dikeringkan.
Bahan kayunya berbeda-beda, tergantung daerah. Di Sentani, misalnya, ada yang memakai kayu matoa. Badan tifa biasanya diukir dengan motif khas.
Tifa juga punya sisi sejarah yang menarik. Konon, tetua adat menabuhnya untuk memanggil wakil dua pihak yang bertikai agar mau berdamai. Karena itu, tifa sering dianggap simbol perdamaian.
Pikon
📍 Asal: Lembah Baliem, suku Dani
🎼 Jenis: Getar, ditarik talinya (sering disebut kecapi mulut)
🪵 Bahan: Bambu dan tali
🎭 Fungsi: Hiburan pribadi di honai
Pikon terbuat dari bambu kecil berbentuk lonjong. Di bagian tengahnya ada tali yang terikat pada sepotong lidi sebagai penggetar.
Cara mainnya unik. Pemain menjepit alat ini di bibir, lalu menarik lidi di bagian pangkal. Getarannya menghasilkan bunyi khas yang tidak terlalu nyaring.
Namanya berasal dari bahasa Baliem dan berarti alat musik bunyi. Biasanya pria suku Dani memainkannya untuk mengisi waktu santai di honai.
Eme
📍 Asal: Suku Kamoro
🎼 Jenis: Pukul (gendang)
🪵 Bahan: Kayu, kulit biawak, dan perekat alami
🎭 Fungsi: Pengiring nyanyian dan tarian adat
Eme mengiringi cerita legenda, pantun, dan petuah yang dinyanyikan masyarakat Kamoro. Penonton pun biasanya ikut menari mengikuti pukulannya.
Perekat kulit pada eme dulu dibuat dari campuran kapur kerang dan darah. Kini bahan itu sudah diganti getah pohon mangi-mangi atau pohon ote yang warnanya sama-sama merah.
Suaranya bisa diatur. Makin banyak bulatan getah damar yang ditempel di kulit, makin rendah bunyi yang keluar.
Triton
📍 Asal: Pesisir Papua, seperti Biak, Yapen, Nabire, Waropen, dan Wondama
🎼 Jenis: Tiup
🪵 Bahan: Cangkang kerang
🎭 Fungsi: Alat panggil dan hiburan
Triton dibuat dari cangkang kerang besar yang gampang ditemukan di pantai Papua. Cara memainkannya cukup sederhana, yaitu dengan menutup salah satu sisi cangkang lalu meniupnya.
Dulu, bunyinya berfungsi sebagai tanda untuk mengumpulkan warga. Sekarang triton lebih sering muncul sebagai hiburan dan pelengkap pertunjukan budaya.
Fu
📍 Asal: Papua, dimainkan antara lain dalam tarian suku Asmat
🎼 Jenis: Tiup
🪵 Bahan: Kayu dan bambu (ada juga versi kerang)
🎭 Fungsi: Alat komunikasi dan pengiring tari
Fu dikenal juga dengan nama tahuri atau korno. Namun, di budaya Papua, istilah fu lebih akrab terdengar.
Bahannya beragam, tergantung sumber dan daerahnya. Ada yang menyebut terbuat dari kayu dan bambu, sementara versi lain memakai kerang.
Sama seperti triton, fu dulu dipakai untuk memanggil penduduk. Kini alat musik tiup ini lebih sering mengiringi tarian adat.
Yi
📍 Asal: Papua Barat
🎼 Jenis: Tiup (bentuk seperti suling)
🪵 Bahan: Kayu dan bambu berwarna cokelat gelap
🎭 Fungsi: Pengiring tarian adat dan pemanggil warga
Yi punya bentuk seperti suling dan suara yang cukup unik. Karena itu, alat ini sering dipakai untuk mengiringi tarian adat.
Awalnya, yi dimainkan oleh ketua adat. Mereka meniupnya saat akan ada upacara atau pengumuman penting bagi masyarakat sekitar.
Butshake
📍 Asal: Suku Matu, Merauke (menurut sumber yang tersedia)
🎼 Jenis: Kocok (mirip marakas)
🪵 Bahan: Bambu dan buah kenari
🎭 Fungsi: Pengiring tari dan upacara
Butshake menghasilkan suara gemericik. Bunyinya muncul saat buah kenari di dalam bambu saling beradu ketika alat ini dikocok.
Bentuk dan cara mainnya mirip marakas, tapi bahannya murni dari alam. Jadi, butshake bisa dibilang versi tradisional dari alat musik ritmis modern.
Krombi
📍 Asal: Suku Tehit, Sorong Selatan
🎼 Jenis: Petik
🪵 Bahan: Bambu
🎭 Fungsi: Pengiring tari, upacara adat, dan acara keagamaan
Krombi dibuat dari sebatang bambu dan dimainkan dengan cara dipetik. Hasilnya adalah bunyi yang lembut.
Alat ini sering tampil bersama fu dan tifa. Ketiganya melengkapi satu sama lain dalam hiburan, upacara adat, sampai acara keagamaan.
Baca Juga: Arti Kalcer dan Contoh Penggunaannya dalam Bahasa Gaul
Cari Pertunjukan Seni dan Musik Seru di TipTip

Setelah kenal alat musiknya, kamu pasti penasaran dengan suasana mendengarnya langsung. Kamu bisa cek e-tiket konser dan event lain di TipTip untuk menemukan pertunjukan yang cocok dengan seleramu.
TipTip adalah marketplace e-tiket event offline, karya digital, dan sesi live untuk kreator dan komunitas Indonesia. Di sana ada konser, festival musik, hingga fan meeting yang bisa kamu pesan lewat aplikasi atau situs.
Menonton pertunjukan langsung juga cara asyik untuk mengenal ragam bunyi dan budaya musik. Kamu bisa memantau jadwal terbarunya kapan saja, karena daftar event terus berubah.
FAQ
Apa saja alat musik tradisional Papua?
Alat musik tradisional Papua antara lain tifa, pikon, eme, triton, fu, yi, butshake, krombi, atowo, amyen, dan guoto.
Apa alat musik tradisional Papua yang paling terkenal?
Tifa merupakan alat musik Papua yang paling dikenal. Alat pukul mirip gendang ini digunakan dalam upacara adat, penyambutan tamu, dan pertunjukan tari.
Apa keunikan alat musik tradisional Papua dibanding daerah lain?
Keunikannya terletak pada bahan alami seperti bambu, kerang, kulit hewan, dan buah kenari. Beberapa alat musik juga digunakan untuk komunikasi dalam kehidupan adat.


